Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2014

Cinta Suci

Sudah lama Alex jatuh cinta kepada Maryamah. Sementara itu, gadis cantik tersebut telah bersumpah, lebih mencintai Allah dan Rasulnya ketimbang langit dan bumi seisinya, apalagi kepada Alex yang berbeda agama.

Jejaka itu mengaku sudah lama mengaku masuk Islam. Hal itu telah dibuktikannya dengan berkhitan serta melakukan sholat. Cuma bagi Alex, pengorbanan itu dianggap belum memperoleh imbalan yang seimbang dari Maryamah. Ia ragu apakah putri kiyai itu membalas cintanya ?
Pada suatu malam, sesudah berhasil menjebak kekasihnya untuk singgah di tempat kosnya yang sepi, Alex berkata, " Maryamah, apakah engkau mencintai aku?" Alex tampak gelisah. Ada kilatan nafsu di dalamnya.
Si gadis mengangguk, seraya menghela napas. "Cintaku suci, mas"
"aku tahu. Untuk itu, aku rela mengorbankan apa saja agar mendapatkanmu. seribu langit boleh menindih diriku, tetapi aku akan tetap menikahimu."
"Terima kasih mas."
"Aku ingin membuktikan, apakah engkau rela berkoban untukku, "ucap Alex dengan napas kian memburu.
"Apa maksudmu mas?"
"Ah...tidak apa-apa. Maksudku, bagi kita yang menikah, sekarang atau kelak sama saja, bukan?"
"Tentu, sekarang aku mencintaimu. kelak juga aku mencintaimu," jawab Maryamah, berusaha tetap tenang
"Nah itulah yang kuharapkan. Aku ingin meminta bukti darimu. Selama ini aku gelisah, benarkah kau yang kucintai masih belum dijamah oleh lelaki lain?"
"Aku kurang paham mas"
"Begini, mumpung rumahku sedang sepi, aku ingin engkau menyerahkan sekaligus membuktikan kesucianmu."
Maryamah terbelalak. Ia tau apa yang diinginkan Alex. Ia amat tersinggung. Ia hendak marah dan memberontak. Tapi Ia sangat mencintai Alex. Maka dengan halus ia menjawab, "Mas..., untukmu, apalagi sekedar mahkota kehormatanku, nyawapun akan kukorbankan sebagai tanda cintaku bagimu. Tetapi apakah engkau mencintaiku?"
"Jangan kuatir, takkan ada orang lain dalam hidupku."
"Dan engkau bersedia berkorban demi cintamu? desak Maryamah.
"Seperti engkau juga, segala-galanya akan kukorbankan untuk membahagiakan hidupmu."
"Jika demikian tentram nian perasaanku."
"Maksudmu ?"
"kalau engkau menuntut begitu besar dariku dan aku bersedia mengabulkan permintaanmu, pasti engkau juga akan bersedia mengabulkan permintaanku yang lebih kecil."
"Apa permintaanmu?"
"Urungkan niatmu, korbankan hawa nafsumu, dan singkirkan rasa curigamu padaku. Kalau nanti setelah resmi menjadi suami isteri ternyata aku bukan perawan lagi, gebahlah aku dalam kamar pengantin seperti seekor anjing bodoh. Tetapi sebelum itu bebaskan aku dari ancaman dosa besar. Ketahuilah mas..., satu-satunya yang bakal membahagiakan hidupku selama-lamanya adalah jika aku tidak melepaskan dan menyerahkan kesucianku, sehingga tidak membiarkan diriku ternoda sebelum ijab kabul dilakukan di hadapan penghulu."
Alex tersentak, Maryamah terisak. Malam itu setan menangis karena masih ada remaja yang shalih pada zaman bobrok ini.

Cermin siswa

            Teman, telah tiga kali  dedaunan di utara telah berguguran semenjak kita semua bernaung di bawah panji-panji yang sama. Kita adalah bintang-bintang yang menyusun suata konstelasi di bawah mantel biru sang langit IPA 2.Sayang sekali kalau akhirnya pena takdir menggoreskan bahwa ikatan antara kita akan terurai dan kita pun akan terpencar ke delapan penjuru mata angin.
      Namun tidak terlalu menyesakkan dada.Walau bagaimanapun akhirnya sang waktu jugalah yang akan merajut kembali konstelasi yang telah terurai itu, meskipun kita terpisah sejauh bintang utara dan bintang timur di senja hari.

Teman,gunung yang akan kau daki sungguh tinggi,gunung yang akan kau lintasi  sungguh menggetarkan hati,sungai yang akan kau seberangi sungguh dalam dan perjalanan yang akan kau lakukan  akan penuh dengan genangan air mata atau bahkan genangan darah.
Semua itulah yang akan menempa yang membentukmu yang saat ini yang masih seperti berlian yang baru di petik dari batu gunung dan belum bisa dibedakan dengan pecahan kaca.Tempaan itu lambat laut akan menjadikan
perbedaan antara berlian dan pecahan kaca semakin
terlihat jelas,terlebih ketika kawan  telah menjadi berlian bersisi 48 yang memantulkan sinar emas mentari ke mana pun mata dipalingkan.Pada saat itu, kami akan berbangga memilikimu.Tetapi jangan sampai terurainya  ikatan kita menyebabkan jiwa persaudaraan Kita menjadi seperti pecahan batu karang yang didera gelombang dan tak akan pernah dapat lagi disatuakan sekalipun oleh tangan seorang pengukir ulung sekalipun karena pernah.

     Andai kata hal itu benar-benar terjadi,artinya rasa kasih yang telah menjadi saripati persaudaraan kita tak lebih daripada ranting kering yang gugur dan menunggu untuk dilemparkan ke dalam perapian yang dipenuhi api kebencian. Karena itu, sekalipun takdirmu lebih pedih daripada goresan belati,tetaplah beri tempat bagi kami untuk hadir di hatimu,karena kamipun akan menyatukan jiwamu dalam napas kami.

      Teman, Kami relakan kepergianmu,semoga jalanmu akan diterangi cahaya dan yakinlah kami akan mengikutimu sebab walau bagaimanapun harimau sepertimu tidak akan pernah bersaudara dengan kucing.


Aku Mudah menjangkaumu


 Malam-malamku untuk merajut ilmu yang bisa dipetik
  Menjauhi wanita elok dan harumnya leher
  Aku mondar –mandir untuk menyelesaikan masalah sulit
  Lebih menggoda dan manis dari berkepit nan manis dan
  Panjang
  Bunyi pena yang menari di atas kertas-kertas
  Lebih manis daripada berada di belaian wanita dan
  Kekasih
   Bagiku lebih indah melemparkan pasir ke atas kertas
  Daripada gadis-gadis yang menabuh dentum rebana
  Hai orang yang berusaha mencapai kedudukaku lewat
  Angannya
  Sungguh jauh jarak orang yang diam dan yang lain
   Apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama
   Dan engkau tidur nyenyak
   Setelah itu engkau ingin menyamai derajatku

         Jika musim dingin tiba engkau adalah matahari
         Jika musim panas tiba engkau adalah naungan
         Engkau tidak tahu jika engkau mengifakkan harta
         Apakah engkau lebih banyak memberi atau sedikit
         Engkau akan diganjar oleh orang lain dengan segala    
         Kebaikan,karena engkau adalah pahlawan
    
    Dengan wajahmu kami mengambil penerangan
         Saat kami berjalan di malam-malam gulita
         Namamu dalam pendengaran adalah sebaik-baiknya
         Petunjuk yang disebutkan disemua tempat
         Jiwa kami jadi tebusan atas segala goncangan
         Dan para jamaah haji menjadi tebusan saat membaca  

         talbiah

NYANYIAN DUKA

           
Menjulang dalam hidup dan saat meninggal,
Kau benar-benar menjadi satu mukjizat
Seakan orang –orang mengerumunimu
Ketika para utusan itu berdiri memanggilmu
Pada hari-hari pertemuan
Kau laksana sedang berkhotbah ditengah mereka
Dan mereka sedang berdiri untuk menunaikan sholat
Kau rentangkan tangan menyambut mereka
Seperti merentangkan untuk memberi
Kala perut bumi menyempit,mereka akan menguburkan kemuliaan itu
Mereka condongkan cuaca sebagai kuburmu
Dan kini yang ada hanyalah suara-suara tangisan

Ada tanah gundukan untukmu namun tak ku katakan
Sebab kau adalah hujan lebat yang turun terus menerus
Untukmu gelombang ucapan selamat dari sang Maha Rahman,dengan pemberkataan hati yang wangi
Karena kebesaran jiwamu kau selalu mendapatkan penjagaan dari para penjaga yang terpercaya
Di sekitarmu dinyalakan api pada malam hari
Seperti ini ada nasaf masih dikandung badan

Puisi

             YUK…BERSENANDUNG


     Puisi adalah sebentuk  pengucapan bahasa yang memperhitungkan  adanya aspek bunyi-bunyi didalamnya,yang mengungkkapkan pengalaman imajinatif,emosional,dan intetektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu,sehingga puisiitu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya.Tentu saja,batasan ini tentative yang bertolak pada puisi konvensional.
     Sebagai  hsil kebudayaan puisi memang selalu berubah dan berkembang sesui  dengan perubahan  dan perkembangan masyarakat yang menghasilkan kebudayaan itu.Yang jelas apapun corak dan ragamnya  meniscayakan adanya hal-hal yang  hakiki dan universal
      Hakikat  Penyair dan Puisinya ; Sebuah  Cara  Komunikasi.

  Aku sudah terbuka secara perlahan-lahan ,seperti sebuah pintu,bagiku satu persatu  aku buka ,bagai daun-daun pintu ,hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi  yang bernama rahasia
Begitu sederhana  sama sekali terbuka
       Dalam puisi tersebut  penjair diibaratkan sebuah pintu  yang daun-daunnya sama sekali terbuka  hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi bernama rahasia.Jadi penyair adalah seseorang yang membukakan rahasia kehidupannya kepada orang lain.Tentu hak ini merupakan sesuatu yang paradoksal.Sementra manusia pada umumnya merahasiakan kehidupannya agar tidak diketahui oleh orang lain.tidak demikian halnya dengan penyair.Lewat puisi-puisinya penyair membuka pintu-pintu jiwa dan kehidupannya bagi rang lain.


                  Risalah HUB

Ku tulis surat ini kala hujan gerimis
Bagai bunyi tambur mainan
Anak-nak peri dunia yang gaib
Dan angina yang mendesah
Mengeluh dan mendesah
Wahai ,dik Narti
Aku cinta padamu
       Ku tulis surat ini
        Kala langit menangis
         Dan dua ekor belibis
          Bercinta dalam kolam
           Bagai dua anak nakal
            Jenaka dan manis
            Mengibaskan  ekor  
Serta menggetarkan bulu-bulunya
Wahai,dik Narti
Ku pinang kau menjadi istriku
Kaki-kaki hujan yang runcing
Menjentuhkan ujungnya di bumi
Kaki-kaki cinta yang tegas
Bagai logam berat gemerlapan
Menempuh ke muka
Dan tak akan kunjung di undurkan
Selusin malaikat
Telah turun
Di kalhujan gerimis
Di muka kaca jendela
Mereka berkaca dan mencuci rambutnya
Untuk ke pesta
Wahai dikNarti
Dengan pakaian penganten yang anggun
Bunga-bunga serta keris keramat
Aku ingin membimbingmu ke altar

"Prahara di Atas Nisan Ibu" Part 2

Cerpen : "Prahara di Atas Nisan Ibu" Part 2

“Sengaja aku datang ke kuburan ini untuk menemuimu.”. “Mungkin besok pagi aku ini tidak bisa lagi melihat kebaikanmu,kejujuranmu dan semangatmu yang tinggi dalam membela harga diri,agama bangsa dan Negara. ”
.”Sekarang aku membawakan nasi dan singkong rebus kesukaanmu.”Makanlah agar kamu kuat. melawan musuh”,musuh mu, musuh kita semua”.
“Pesanku .” “Jangan tengok ke belakang, kami juga bisa menjaga diri”. “Jangan bimbang dan jangan ragu ayah, karena entah besok atau lusa pasti tumbuh pahlawan-pahlawan kecil yang akan mengikuti jejak ayah,.bahkan mewariskan keberanian ayah,hingga anak-anak dan cucu-cucumu bisa hidup aman di negeri yang kaya ini,tanpa ada lagi penindasan dan kekejaman seperti saat ini.” Tambah ku.”.Ayah terperangah melihat kemunculanku di kuburan pada malam hari itu.
Ayah menatap wajah ku dengan tatapan haru. Ternyata anak yang ku anggap lugu dan pendiam selama ini bisa berbicara seperti orang bijak kebanyakan, katanya.”
Lama dia menatap wajah ku. Dengan tatapan kosong dia menatap ku yang masih berumur sekitar delapan tahun itu”.Pandangannya melayang jauh….jauh sekali.
Wajah polos itu nampak mewaranai dinding dinding kehidupan di antara hati orang yang sangat mencintainya.”cetus pak H.Faturrahman”. “Aku senang anakku,aku cukup bahagia ketika engkau datang di saat-saat terakhir ini.”Aku dipeluk dan diciumnya dengan mesrah.”. “ Aku akan bahagia lagi anakku bila engkau bisa menghirup udara kebebasan di atas tanahmu yang makmur ini.” Dipandangnya puncak bukit yang jauh di barat diteduhi kilatan halilintar, samar-samar terlihat nampak seperti saksi yang menorehkan sejarah buat dirinya. Dia menangis dan memeluk ku”.
“Ayah, jangan menangis!”
“Iya nak”,nanti hati ayah menjadi bimbang”
.”Tidak anakku,itu tidak!.
“Yang ku pikirkan jika aku tiada nanti,apakah engkau dan cucuku akan diperhatikan oleh Negara kita ini?, atau malah sebaliknya.” “Aku dikatakan pembangkang dan pembunuh sehigga kamu pun dikatakan anak pembunuh”.” Aku diam menatap wajah ayahku”.
“Anakku,” Aku merasakan suatu saat nanti orang-orang akan membalikkan sejarah dan menghianatimu, bahkan tidak berlaku adil kepadamu”.
Lantas ku katakan,” “Ayah…. berdasarkan cerita pak Haji Faturrahman ini, bahwa para pahlawan yang gugur, tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi termasuk buat anak dan keturunannya”. ”Mereka tidak pernah mengharapkan apa –apa dari negaranya.” Begitu pula para suhada pada perang Badar dan perang lainnya, tidak pernah mengharapkan pamrih dan sebutan apa-apa.” “Umar”, betul kata anakmu itu”. Tambah H.Faturrahman.
“Mereka rela mengorbankan jiwa raga untuk kejayaan bangsa dan agama,lain tidak”
.Sejenak ayah terdiam menatap ku,lalu berkata dengan suara lemah lembut bagai dalam keadaan tenang.
“Ismail?”. “Jika engkau besar nanti, kamu harus menjadi orang baik yang berguna bagi orang lain.” “Insya Allah, ayah!”.
“Di dunia ini tiada yang lebih berharga selain dari harga diri”
“Aku sendiri sangat menyayangkan pamanmu yang menjadi kaki tangan kompeni di tanah kita”.”Pamanmu rela menjual martabat bangsa,bersikap kejam pada masyarakat tanpa menghiraukan lagi nurani kemanusiaan demi uang dan ambisi pribadinya”,.” Sungguh keterlaluan!”.
“Ayah?,” kalau begitu, apakah tidak mungkin paman yang telah menjadi pejabat kepercayaan kompeni itu akan menghianati ayah?.” “Itu bisa saja terjadi anakku..
Tiga hari lalu dia menindas rakyat jelata.Mereka menghukum rakyat karena upetinya belum mampu dilunasi. Pada hal mereka sudah tahu bahwa hasil panen padi dan palawija tahun ini kurang, lantaran kompeni menyuruh masyarakat menanam kacang hijau di ladang bukan di sawah.”
“Pamanmu lebih sadis dan kejam ketika memegang jabatan punggawa itu, malah terkadang kekejamannya melebihi kejamnya serdadu Belanda”.Belanda hitam memang kejam,nak!”.
‘Ayah !” “ sebentar lagi serdadu Belanda akan datang ketempat ini untuk menangkap ayah”.
“Apa yang harus kita kerjakan sekarang” “Jangan khawatir anakku, kuburan ini bukan seperti kuburan di kota yang ditata rapi dan bersih.” ‘Tempat ini masih asli, mirip hutan belantara banyak pohon dan belukarnya. “Ini cukup dijadikan tempat kucing-kucingan dengan mereka.”
“Semua perangkap sudah terpasang”.”Pohon-pohon besar ini dapat dijadikan benteng dan tameng dari serangan musuh di samping lubang persembunyian .”.
Deru suara mobil serdadu Belanda dari kadipaten Bima mengiang dalam telinganya. Tampak dari jauh terangnya alam di seputar lembah gunung Kabuju itu, karena disinari cahaya lampu dua mobil patroli kompeni. Kami saling berpelukan. Aku menangis dalam pelukan ayah.. Diambilnya sejumput tanah di atas pusara ibunya kemudian dioleskan keseluruh tubuhnya.Dia tersungkur sujud mohon ampun kepada tuhan atas dosa-dosa masa silam.
Dipandangnya kearah selatan terlihat masyarakat sekitar lari berhamburan karena mendengar suara tembakan, layaknya perang besar. Serdadu –serdadu menembakan senapannya..
Ismail anakku!”, katanya”sampaikan pesan ini kepada ibumu”. “Jika kelak aku tewas, kuburkan aku di samping ibuku.” “Di saamping kuburan nenekmu .,anakku!”.
“Kau harus patuh kepada perintah ibu,ya?”. Iya,ayah!”. jawabku“ Ayah melanjutkan kata-katanya dengan lirik yang indah”. “Ibumu yang telah melahirkan mu pada subuh bertaburan bintang pada musim dingin delapan tahun lalu, sangat sayang kepadamu”.”Dia sangat sabar menghadapi cobaan hidup dan taat kepada perintah agama”.”Ibumu penyabar seperti eyangmu H.Faturrahman”.
“Ketika engkau menangis ,dengan penuh kesabaran ibumu memeluk dan mencium dirimu melebihi segala-galanya “.”Aku tetap menangis dalam pelukan ayah dan pelan-pelan aku menciumnya”.
Sekitar satu kilo meter di arah selatan, serdadu –serdadu kompeni melepaskan tembakan. Ayah menyusup dan mengawasi gerakan musuh di sana, lalu kembali pada posisi semula.Dia sudah bisa memperhitungkan kekuatan musuh. Katanya musuh sekitar dua puluh orang. .
Seketika suara-suara tembakan itu redam, entah karena apa.Aku mencari tahu apa yang terjadi di bagian selatan,lalu kulaporkan kepada ayahku..”Ayah di sealatan terjadi kekacauan, karena serdadu kompeni menembak masyarakat, sementara ada beberapa orang masyarakat yang mengamuk”.”salah seorang serdadu dibunuh dan mayatnya sedang disembunyikan, juga dua orang serdadu lainnya tewas karena ditembak” entah siapa yang menembaknya.”Bagus, terima kasih atas laporanmu pahlawan kecil”.”Kata ayahku”
Pada detik-detik yang menegangakan itu ayah menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi padaku.Kami duduk menghadap kearah selatan sepertinya tidak terjadi apa-apa
.”Ismail saat ini saya yang menjadi satu-satunya musuh kompeni di tanah kita ini.”
“Pada saat itu, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan perintah yang sama sekali tidak masuk akal,saya membantahnya dan melarang masayarakat sekitar untuk tidak menaatinya”.
“Perintah apa ayah?”.”Mereka mengharuskan kepada seluruh masyarakat untuk tidak menanam padi di sawah, pada hal tanah sawah itu luas sekali dan subur, air yang banyak mengalir begitu saja..Masyarakat disuruh meninggalkan kampung untuk menanam padi dan palawija di gunung”. Gunung harus digundulkan, sedangkan gunung itu sumber mata air atau sumber kehidupan masyarakat..Kemudian pembayaran pajak dan upeti dinaikan menjadi tiga kali lipat,padahal penghasilan petani belum ada.”
Ayah melanjutkan ceritanya” “Karena saya melarang masyarakat setempat, maka saya difitnah,ditangkap,disiksa di depan orang banyak dan saya disuruh makan rumput bekas injakan kaki mereka layaknya seekor binatang.” Aku malu, aku sangat malu anakku!”. “ Aku dimasukan dalam sel dengan tuduhan pembangkang dan penghianat pemerintah kolonial”.
“Aku membunuh penjaga pintu tahanan tanpa di ketahui seorang pun “.”Aku langsung kerumah pejabat kejam yang mempermalukan aku di depan umum itu.” “Aku membunuhnya”. “Ismail, bagaimana pendapatmu tentang itu?”. “Apakah kamu setuju dengan tindakan ayah itu?”.”Kata ayah”.
Aku diam membisu tidak mampu menjawab pertanyaan ayah.Aku hanya melihat ke arah selatan terus dan berdiri di sebelah barat ayah.
Letusan senapan di bagian selatan mulai mewarnai suasana perang sekitar kuburan itu.Serdadu kompeni mulai mendekati tempat persembunyian kami.Masyarakat hanya bisa menyaksikan dari jarak yang agak jauh dan tidak berani memberikan perlawanan. Ayah yang sudah menguasai medan dengan mudah bermain kucing-kucingan dengan musuh.Dengan pandangannya yang awas dan tajam dia mampu melihat musuh-musuh yang menggunakan senter kecil itu.
Hujan lebat menambah suasana menggelora dalam perang itu.Gerakan –gerakan penyerangan yang dilakukan ayahku cukup gesit, membuat musuh kelabakan.Dia menyerang musuh-musuhnya bagai serangan harimau kelaparan.Tubuhnya ringan bagai rajawali raksasa yang siap mencakar musuh-musuhnya.Satu persatu musuh-musuhnya dipanah dan ditombaki dari belakang, kemudian bersembunyi.
Melihat keadaan yang demikian komandan pasukan menyerukan maju dan berpencar kepada anak buahnya.Hal yang demikian semakin menambah banyak korban di pihak kompeni.Komandan kompeni kehilangan akal melihat prajuritnya terkapar satu persatu di semak = belukar. Serang…….serang…. perintah komandan,maka personel yang tinggal sekitar tujuh orang itu menembaki pohon dan belukar secara membabai buta tanpa sasaran yang tepat, sehingga mengakibatkan mereka kehabisan peluru.Ayah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emasnya itu .Dicincangnya musuh-musuhnya yang kocar kacir itu satu persatu..
Komandan kompeni itu berdiri terpekur, tidak bisa berbuat banyak Gerangan apa yang sedang dipikirkan. Dia memanggil ayah”, “Umar…….Umar ,“namun tidak ada jawaban.Pada hal ayah ada di sekitarnya .
Dia melihat komandan itu tapi belum mau membunuhnya.Dipanggilnya ayah lagi, “Umar!.. Umar…..,dia menawarkan kepada ayah .”Jika kamu mau jabatan maka akan kuberikan jabatan itu.” “Jika kamu mau istri akan kuberikan gadis tercantik yang belum pernah kau lihat.”Jika kamu mau uang tinggal disebutkan berapa banyaknya”.Serahkan dirimu sekarang juga supaya engakau bisa kuhadapkan pada atasanku di kabupaten untuk menerima hadiah itu.”Ayah yang sudah tahu kelicikan Belanda tidak mau menggubris tawaran itu, juga tidak tertarik dengan semua kebohongan itu, malah semakin dia marah. “Umar!”. Umar…..dengan sigap ayah melayangkan tombak trisulanya tepat mengenai perut komandan kompeni itu.Komandan kompeni terkapar bersimbah darah.
Ayah tahu bahwa keadaan sudah aman Dia menapakkan kaki mendekati nisan ibunya yang paling utara.Dipeluknya batu nisan itu kemudian menciumnya penuh haru. Sang komandan yang masih memiliki sebutir peluru itu dengan sedikit kekuatannya menembak ayahku,tepat mengenai pahanya kirinya. Aneh sekali, ayahku tidak pernah merintih kesakitan.Dia menyobekkan sarungnya untuk mengikat bekas peluru, di pahanya itu. Dia berbaring memandangku dan mengatakan.”Kibarkan sepotong sarung tuaku ini di ranting pohon beringin itu agar aku bisa tersenyum hari ini.”
Dengan hati yang berbunga-bunga, ayahku yang berbaring itu tersenyum puas menyaksikan sepotong sarung tua miliknya itu berkibar di ranting beringin itu.
.Itu bagai merah putih yang berkibar pada hari ini di tiang bendera pada kantor desa itu,kantor mu itu nak polisi.”.”Pak tua, menarik sekali ceritanya.”. “Dia pahlawan sejati.” ‘Buat ayahku itu tidak penting, yang penting dia memperjuangkan kehormatan,harga diri bangsa dan keadilan di negeri tercinta ini.”Mungkin sama dengan keinginan kami yang ingin memperjuangkan keadilan di desa itu” ”Pak tua, besok upacara tujuh belas agustus sudilah kiranya bapak untuk menghadirinya.” “Dengan senang hati aku akan ke sana besok agar aku bisa.menceritakan hal itu kepada ayahku nanti”.
Dia larut dalam ceritanya sendiri kemudian dia memandang jauh pada sebuah pohon beringin yang berdiri kokoh itu ...

Cerpen : "Prahara di Atas Nisan Ibu" part 1

Cerpen : "Prahara di Atas Nisan Ibu"

Udara panas pada musim paceklik tahun 1998 membuat masyarakat sekitar kewalahan menghadapinya. Harga sembako melambung tinggi..Dengan baju loreng tuanya pak Ismail menatap langit dengan pandangan kosong. Dikatakannya,” krisis ekonomi,hampir sama dengan keadaan negara sebelum Indonesia ini merdeka”.
Dia istrahat setelah bekerja membersihkan kuburan..Sesekali keluar dari mulutnya “Indonesia telah merdeka” .Dia memandang jauh, entah apa yang dipandangnya pada sebuah pohon beringin itu, terlintas dalam pikirannya.
“Dulu,dengan penuh haru ayah menatapku.Dia tersenyum ketika sepotong sarung miliknya, ku kibarkan di ranting pohon beringin itu”.. Kini aku heran.Di zaman sudah merdeka ini, aku yang memperjuangkan hak rakyat kecil dimasukan dalam tahanan polisi.
“Bagi ku dan istriku itu sudah ku anggap hal biasa. Sebagai penjaga kuburan yang tidak berpenghasilan tetap, kami harus mampu menjalani hidup ini dengan penuh kesabaran. Di usiaku yang sudah tua ini hanya menerima seadanya dari anakku,selain yang diberikan oleh pengunjung kuburan yang kebetulan mengerti keadaanku. “Aku tidak tahu apalagi yang harus ku kerjakan,selain dari membersihkan kuburan.”.Gumamnya.
Entah karena apa, pagi itu istrinya bergegas ke rumah pak Rt 08.Sepertinya di desa Raioi tempat tinggalnya, ada yang tidak beres. Orang di sekitar mengatakan masih banyak orang miskin, yatim piatu dan jompo tidak mendapatkan jatah raskin dan BLT. “Lanjutnya”. “Kalau aku sendirisih tidak ada masalah karena aku sudah biasa dengan keadaan begini”. ”.Aku hidup dan dibesarkan dalam keluarga yang selalu menderita dan tertekan. Tetapi ini urusan ketidak adilan mereka pada rakyat miskin.Ini harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah desa atau di atasnya.
Pak RT,” rupanya pembagian raskin dan pembagian kartu BLT belum tepat betul sasarannya”.Kata istriku.” ”Masa, Haji Tamrin , pak Nurdin yang tergolong orang berada dan juga orang-orang yang rumahnya besar dan memiliki tanah,motor,tv dan lain-lain mendapatkan bantuan itu,” sementara kami ini tidak mendapatkannya.” “Aku mendengarkannya dari tetangga sebelah yang kebetulan senasib dengan kami”.”Sabar, sabar bu, ya?.”Sabar pak,ya?” .“Program pemerintah ini sudah kami laksanakan dengan baik sesuai aturan dan juga sasarannya sudah tepat”.”Kalaupun ada satu –dua orang yang belum mendapatkannya, itu hal yang biasa.”Kan bukan ibu dan pak Ismail saja yang kami urus.” “Tapi,,, pak RT,” “ kami ini betul-betul tidak ada.” Mendengar itu pak RT langsung diam
.
Mungkin tidak puas dengan alasan pak RT,istrinya dan pak Ismail langsung ke kantor desa menemui pak Maskur kepala desa..Sementara masayarakat sekitar sedang berkumpul di rumah pak RT sekaligus meminta kesediaan pak RT untuk turun dari jabatannya.. Kepala desa baru itu belum mempunyai pengalaman untuk menangani kasus seperti ini, atau belum mampu membaca situasi di desa.”Maaf, pak kepala desa. “Kami adalah warga bapak yang ada di RT 08.” “Tadi saya dan istri saya menghadap pak RT menanyakan tentang kartu BLT dan raskin,Tapi kami belum mendapatkan alasan yang jelas.”Oleh karena kami menemukan kejanggalan dari pembagian pak RT, maka kami ke sini meminta klarifikasi bapak tentang hal itu.”Kepala desa menjawabnya enteng.”Masa satu RT mau dapat semua, pak tua”. “Pak kades bukan begitu masalahnya”.”Di RT kami pak Haji dapat dan orang kaya mendapatkan jatah, sementara kami yang miskin tidak” “Apakah itu adil ,pak kades?”.Kemudian dijawab oleh pak kades”.”Engkau lancang sekali menyoroti kinerja pemerintah, dasar keturunan pembangkang”.Mendengar kata pak kadesnya,.”dia tersenyum kecut..”Pak kades apakah tidak ada kata-kata lain yang pantas dikatakan pada masyarakatmu?”.’Ayah saya bukan pembangkang,tapi ayah saya hanya membela keadilan seperti kami yang datang ke sini yang meminta keadilan pada bapak”.”Indonesia sudah merdeka pak kades, kemerdekaan ini diperjuangkan dengan nyawa para pahlawan.”Apakah pak kades tidak tidak mau menjadi pahlawan yang memperjuangkan nasib rakyat kecil, seperti kami ini?.”.”katanya.
“Di luar kantor desa, masyarakat sudah berkumpul.Ada yang memegang mikrofon,spanduk “Turunkan ketua RT ,”. “Oratornya meminta kepala desa menindak ketua RT 08 dan meminta kepada kepala desa dengan rela melepaskan jabatan itu apabila tidak mampu melaksanakan amanah pemerintah..Kepala desa bertambah garang.Dia melihat tulisan spanduk “Kades seperti ayam betina, please turun”. Dengan lantang pak kades menantang masyarakat.
Massa tetap menyuarakan turun,turun,turun.“ Di luar pagar desa sekelompok anak muda membakar ban bekas. Suasana menjadi panas.Salah seorang pendemo melemparkan batu tepat mengenai kepala staf desa yang melerai demonstrasi itu.Tidak ada yang tahu siapa yang melemparnya. Kepala desa yang merasa kehormatannya diinjak-injak oleh masyarakat langsung melaporkan hal tersebut kepada polsek setempat. Pak Ismail dituduh sebagai otak kerusuhan itu sekaligus tersangka pelemparan staf desa .Dia ditahan di polsek setempat selama satu hari, namun setelah diperiksa secara intensif dia dinyatakan sama sekali tak bersalah.Dia dibebaskan.
Salah seorang anggota polsek itu bersedia mengantarkannya sekaligus ingin memberikan pencerahan pada masyarakat setempat.. “Nak polisi”. “Mungkin sebaikya kita istirahat dulu sebentar, sebelum sebelum ke rumahku.” “Baik, pak tua, katanya.” dImana pak tua?”.”Di sana, di dekat kantorku,di kuburan itu.”Dia menunjuk kuburan itu dari jauh”. “Aneh pak tua”Sebenarnya tidak ada yang aneh nak polisi, Cuma hati kita sendiri yang agak asing terhadap kenyataan itu” ‘Pak polisi itu memperbaiki cara duduknya lalu dia melipat celana panjang dan duduk menghadap”..”Nak, polisi dunia ini demikian adanya”. “Maksud pak tua?’.”Yaa…..terkadang orang miskin yang terus disalahkan,orang yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan.Itu sama halnya dengan pengadilan pada zaman kolonial Belanda dulu, ketika saya masih kecil.” “Saya yang mengklarifikasi masalah justru dituduh sebagai dalang kerusuhan.” “Tetapi pak tua, bapak belum menjadi tersangka”. “Syukurlah, karena masih ada polisi yang bijak,Yaa karena yang memeriksanya adalah nak polisi yang jujur dan amanah seperti yang diinginkan oleh pahlawan bangsa ini”..Pak tua itu nampak sedih..”Baru kali ini aku masuk sel polisi seperti penjahat,” cetusnya
Duli, ayahku adalah orang yang mampu menjaga kehormatan dan harga diri. Dia rela menderita,bahkan mati sekalipun demi harga diri.”Nak polisi jangan menunduk. “Mudah-mudahan nak polisi dapat meneladani semangatnya dalam membela keadilan dan kehormatan bangsa,bangsa yang sudah merdeka ini.” “Pak tua,aku kagum pada ceritamu tentang pahlawan itu”.Dia bukan pahlawan nak, tetapi itu pun bergantung dari penilaianmu”. “Bagaimana kisahnya pak tua?”
Malam itu malam jumat di bulan november tahun 1941, aku berjalan sendirian menelusuri lorong mencari wajah ayahku yang telah membunuh salah seorang pejabat kepercayaan pemerintah kolonial Belanda. Samar-samar aku dapat melihatnya dari tempat yang tidak jauh dari nisan nenek dan kakekku.
Ayahku duduk menghadap kearah barat di dekat batu nisan ibunya yang paling utara.Dibersihkan kuburan itu mulai dari bagian selatan sampai ke utara, lalu berdiam diri tanpa mengatakan apa-apa. Aku yang menyaksikan orang tuaku dapat membaca pikirannya.,Dalam pikirannya mungkin terlintas wajah-wajah garang para kompeni dan antek-anteknya yang menyiksanya..Terngiang dalam telinganya suara caci maki dengan kata-kata kasar melebihi dentuman meriam dan letupan senapan, tanpa disadarinya keluar kata-kata,” “mari tuan-tuan akan kucincang tubuhmu satu persatu di kuburan ini.” . .
Suasana di sekitar kuburan itu sangat sepi. Halilintar turut memberikan penerangan bagi insan bumi yang sedang dilanda kesedihan dan kegundahan dalam memilih hidup atau mati.demi harga diri bangsa yang tak kunjung merdeka.
Umar ayahku dengan perasaan khusuk duduk tafakur di atas nisan ibunya, lalu berdoa”, “ Ya Allah! jika nanti Engkau mengambil nyawaku maka ambilah diriku ini di atas nisan ibuku”, dan “Aku mohon kepada-Mu berlaku adilah terhadap diriku,keluargaku dan bangsaku sehingga tidak ada lagi kesangsian yang melilit perasaanku saat berada di pengadilan-Mu”. “ Aku sangat mengharapkan kekuatan dari-Mu untuk menghadapi musuh-musuh bangsaku,musuh-musuh asing yang telah menghancurkan negeri ini”.Sejenak pak tua terdiam memikirkan ketidakadilan yang diberikan pemerintah desa itu.”Maaf nak,” “pikiran saya agak terganggu tadi”. “Kita lanjutkan ceritanya”. .
“Ayah tersentak dalam lamunannya ketika prahara datang silih berganti.Cahaya halilintar seakan-akan menyambar dirinya. “Gumamnya dalam hati , “gerangan apa yang akan terjadi menimpa diriku?.” “Mungkinkah itu pertanda bahwa tuhan marah padaku?, atau …sebentar lagi aku akan tewas di tangan musuh-musuhku?”.
Dipeluknya batu nisan ibunya yang paling utara lalu diciumnya seperti pelukannya yang terakhir kali. Diusap-usapnya batu nisan ibu dan ayahnya dengan penuh keharuan.
Suara anak –anak alam di sekitar itu bersahut-sahutan, bahkan dengan jelas kokok ayam di dusun kecil sebelah barat kuburan itu terdengar indah, menawan hati di saat menunggu maut.Aku sudah bisa memperkirakan bahwa waktu sudah tengah malam.
Firasatku mengatakan bahwa musuh-musuh ayah sebentar lagi akan tiba di areal kuburan itu.Sarung yang sudah pudar warnanya itu diikat pada pinggangnya yang agak sakit-sakitan.Topi bambu kesayangannya disimpan di atas batu nisan ibunya. Oh, ayahku memang orang yang kepada orang tuanya, “kataku .Tampak di wajahnya yang tenang itu kesedihan yang mendalam.
Tampaknya alam tak bersahabat lagi.Angin kencang menghempas pohon dan semak- belukar di sekitar kuburan itu, menambah suasana jiwa semakin mencekam. Tak lama kemudian angin mulai reda dan gerimis pun turun..
Ayahku pindah ke arah barat di bawah sebuah pohon beringin besar yang dikelilingi semak-belukar. Di bawah rindangan pohon beringin itu, dia berbaring memikirkan apa yang harus diperbuatnya.Bermodalkan pengalaman dan keberanianya itu dia menyusun strategi perang dengan caranya sendiri.
Hatiku mengatakan”. “Suatu hal yang mustahil dan sia-sia apabila ayahku sendirian yang bersenjatakan tombak” tri sula” dan panah ,mampu melawan serdadu kompeni yang dan bersenjatakan bedil”.
Samar-samar dari jauh dengan inderanya yang tajam dan terlatih,dia mampu menangkap suara langkah seseorang yang datang ke tempatnya.Diintipnya gerakan yang mencurigakan itu di sela-sela semak belukar.Ternyata orang yang datang itu adalah H.Faturrahman guru tasaufnya. .
“Disapanya ayahku dengan salam ,”Assalamualaikum”.
”Ayah menjawab dengan waalaikumussalam”.
“Umar!”, “Aku tahu bahwa engkau bersembunyi di sini”.