Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014


HADITS MUDHU
Maudhu’ berarti bentuk ism maf’ul dari kata kerja wadha’a yang berarti mengada-ada atau membuat-buat. Bila dikaitkan dengan Hadis maka berarti mengada-adakan Hadis atau memalsukan Hadis. Menurut ilmu Hadis, Hadis maudhu’ berarti Hadis yang disandarkan kepada Rasulullah saw. yang Rasulullah saw. sendiri tidak pernah mengerjakan, berbuat dan memutuskannya. Dalam sumber lain dikatakan bahwa Hadis maudhu’ berarti kebohongan yang dibuat dan diciptakan serta disandarkan kepada Rasulullah saw.

A. Pendahuluan

Meski begitu besarnya fungsi dan kedudukan Hadis sebagai sumber ajaran Islam setelah Alquran al-Karim, namun seperti dicatat dalam sejarah, ternyata penulisan dan kodifikasi Hadis secara resmi baru dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Begitu lamanya rentang antara waktu sejak meninggalnya Rasulullah saw. hingga waktu kodifikasi Hadis.

Dalam perjalanan sejarah Hadis, banyak muncul Hadis-Hadis palsu yang diterbitkan oleh beberapa golongan untuk tujuan tertentu baik politik seperti yang dilakukan oleh kaum Syi’ah, atau ekonomi seperti pemalsuan hadis yang menyatakan bahwa melombakan merpati adalah seuatu hal yang disuruh Rasul, fanatisme terhadap sebuah ajaran atau golongan seperti hadis yang mengatakan bahwa Rasul telah memberikan kepemimpinan kepada Ali. Makalah ini akan menguraikan tentang Hadis palsu dan beberapa kajian yang berkaitan dengannya

B. Pengertian Hadis Maudhu

Dari segi bahasa, maudhu’ berarti bentuk ism maf’ul dari kata kerja wadha’a yang berarti mengada-ada atau membuat-buat.[1] Bila dikaitkan dengan Hadis maka berarti mengada-adakan Hadis atau memalsukan Hadis. Menurut ilmu Hadis, Hadis maudhu’ berarti Hadis yang disandarkan kepada Rasulullah saw. yang Rasulullah saw. sendiri tidak pernah mengerjakan, berbuat dan memutuskannya.[2]

Dalam sumber lain dikatakan bahwa Hadis maudhu’ berarti kebohongan yang dibuat dan diciptakan serta disandarkan kepada Rasulullah saw.[3] Dari beberapa defenisi di atas dapat terlihat adanya beberapa kesamaan unsur tentang tanda adanya pemalsuan Hadis, yaitu:

1. adanya unsur kesengajaan.
2. ada unsur kebohongan atau ketidaksesuaian dengan fakta.
3. ada penisbahan kepada Rasulullah saw. berupa ucapan perbuatan atau pengakuan.

C. Sejarah dan Perkembangan Hadis Maudhu’.

Ada perbedaan pendapat tentang kapan munculnya pemalsuan Hadis. Di antara perbedaan itu ada yang berpendapat bahwa pada zaman Rasulullah saw. belum terjadi pemalusan Hadis. Pendapat ini diutarakan oleh Abdul Wahhab, namun meski demikian, ia juga tidak menolak adanya kemungkinan unsur pemalsuan terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam yang dilatari berbagai faktor.[4]

Beberapa faktor yang turut melatari hal tersebut, menurut Abdul Wahhab, adalah adanya anggapan bahwa Rasulullah saw. tidak melarang bahkan memberi kesempatan bila dipandang dapat memberikan manfaat positif bagi kemajuan ummat Islam. Pemalsuan tersebut bisa berupa nasehat agama.

Faktor yang lain adalah adanya kecerobohan dalam meriwayatkan Hadis oleh perawi-perawi yang lemah sehingga timbul kesalahan dalam berbagai bentuk. Seperti riwayat yang sebenarnya bukan berasal dari Rasulullah saw., akan tetapi karena kesilapan, riwayat tersebut disandarkan kepada Rasulullah saw.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa pemalsuan telah terjadi pada masa Rasulullah saw. pendapat ini seperti yang diajukan oleh al-Adabi dan Ahmad Amin. Salahuddin al-adabi berpendapat bahwa pemalsuan Hadis yang sifatnya melakukan kebohongan terhadap Rasulullah saw. dan berhubungan dengan masalah keduniaan telah terjadi pada masa Rasulullah saw. yang dilakukan oleh orang-orang munafiq. Sedangkan pemalsuan yang Hadis yang berkenaan dengan masalah agama belum pernah terjadi pada masa Rasulullah saw.

Alasan yang dikemukakan oleh al-Adabi adalah Hadis yang diriwayatkan oleh at-Thahawi (w. 321 H) dan at-Tabrani (w. 360 H). Riwayat itu menyatakan bahwa pada masa Rasulullah saw., adalah seseorang yang telah membuat berita bohong dengan mengatasnamakan Rasulullah saw. orang tersebut mengaku telah diberi kuasa oleh Rasulullah saw. untuk menyelesaikan suatu masalah pada kelompok masyarakat tertentu di sekitar Madinah.

Pendapat lain dikemukakan oleh Ahmad Amin, ia beralasan dengan adanya Hadis Rasulullah saw. yang bisa dimaknai dengan adanya kemungkinan terjadinya pembohongan di zaman Nabi. Hadis yang dimaksud adalah:
و من كذب على متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.

Hadis ini meskipun dapat dimaknai sebagai bentuk peringatan agar tidak terjadi pembohongan atas nabi, tapi oleh Ahmad Amin, Hadis ini dimaknai telah ada pembohongan pada masa tersebut.[5]

Kedua pendapat tersebut di atas, nampaknya memerlukan pengujian, terutama dari segi historis yang dapat mendukungnya yang juga dapat mencari tahu siapa dan kapan terjadinya pembohongan tersebut. selain dari itu, dari segi matan riwayat yang dikemukakan oleh al-Adabi yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan sahabat beliau untuk membunuh orang yang telah berbohong dan apabila yang ternyata yang bersangkutan telah meninggal dunia, maka Rasulullah saw. memerintahkan jasad orang tersebut dibakar. Bukankah ini sesuatu yang tidak berguna dan bertentangan dengan ajaran Islam?.

Dari segi sanad Hadis yang dipakai oleh al-Adabi telah mendapat penilaian dari Ibnu Hajar al-Asqalani yang telah mengatakan bahwa ada nama sahabat yang dinilainya tidak sahih. Selain dari itu, riwayat tersebut merupakan riwayat tambahan dari Hadis mutawatir yang dijadikan alasan oleh Ahmad Amin.[6]

Pendapat ketiga adalah pemalsuan menurut kebanyakan ulama. Ajjaj al-Khatib menegaskan bahwa pemalsuan tidak terjadi dari sahabat dan dari para tabi’in besar, dan kalaupun terjadi hanya muncul dari sebagian orang jahil dari kalangan tabiin.[7]

Muhammad bin Iraq al-Kinani[8] mengatakan bahwa pada masa pertengahan masa tabi’in yakni awal abad 11 H, terdapat kelompok yang lemah dan banyak sudah memarfu’kan yang mauquf dan meriwayatkan yang mursal. Pada masa tabi’in kecil (150 H), muncul kelompok-kelompok politik, unsur-unsur filsafat, keyakinan agama, fanatisme, kebohongan dan kesalahan.[9]

Kebanyakan ulama Hadis berpendapat bahwa pemalsuan Hadis baru terjadi pertamakalinya setelah tahun 40 H, pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang kontra dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang menyebabkan terpecahnya ummat Islam dan muncul golongan-golongan kelompok agama dan politik yang berbeda. Antar kelompok yang ada saling menguatkan kelompoknya dengan Alquran al-Karim dan sunnah. Tentu saja tidak setiap golongan menguatkan kelompoknya dengan menggunakan Alquran al-Karim dan sunnah, maka sebagian mencoba mentakwilkan Alquran al-Karim dan menafsirkan Hadis dengan cara yang tidak benar. Ketika sebuah ayat maupun Hadis tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuannya (karena banyaknya orang yang menghafal Alquran al-Karim dan sunnah) maka mereka mencoba berdalih dengan membuat-buat Hadis dan kebohongan atas Rasulullah saw. Maka muncullah Hadis-Hadis yang berkenaan dengan khalifah yang empat dan pemimpin masing-masing kelompok. Demikian juga halnya dengan aliran-aliran politik, agama dan lainnya.[10]

Dari uraian di atas dapat dikemukakan beberapa catatan penting tentang berkembangnya pemalsuan Hadis:
  • pemalsuan yang dipandang terjadi pada masa Rasulullah saw. seperti yang dikatakan oleh al-Adabi dan Ahmad Amin, tidak didukung dengan fakta yang kuat.
  • pada masa Rasulullah saw. dan sahabat terdapat pula periwayatan ajaran agama Islam sebagai nasehat yang dilakukan secara cermat yang dimaknai bukan sebagai pemalsuan.
  • pemalsuan muncul berawal dari kecerobohan oleh perawi-perawi yang lemah dengan cara:
a. memarfu’kan Hadis mauquf
b. menyambungkan Hadis mursal.

Hal ini terjadi pada pertengahan masa tabi’in yang berlanjut dengan kebohongan dalam mentakwilkan ayat dan Hadis hingga berujung kepada pemalsuan Hadis.

4. kebanyakan ulama mengindikasikan terjadinya pemalsuan setelah tahun 40 H yang dipicu oleh persoalan politik, filsafat dan faham keagamaan.

D. Faktor-Faktor yang Melatari Hadis Maudhu’

Beberapa faktor yang disebut oleh para ahli yang melatari munculnya Hadis maudhu’, di antaranya adalah:

1. politik

Setelah Utsman bin Affan wafat, timbul perpecahan di kalangan ummat Islam dengan lahir pendukung masing-masing kelompok yang berseteru, seperti kelompok pendukung Ali, pendukung Mu’awiyah dan kelompok ketiga yakni Khawarij yang muncul setelah terjadinya perang Shiffin.[11] Dari tiga kelompok tersebut, Syi’ahlah yang pertamakali melakukan pemalsuan. Hadis yang dibuat oleh kelompok Syi’ah adalah:

على خير البشر من شك فيه كفر
ali adalah orang terbaik, barang siapa yang meragukannya maka ia telah kafir.

Sedangkan Hadis yang dibuat oleh kelompok Mu’awiyah adalah:

ألا صفاء عند الله ثلاثة أنا و جبريل و معاوية

Ingatlah! Yang suci menurut Allah swt. hanya tiga, saya, Jibril dan Mu’awiyah.

Sementara kelompok Khawarij tidak membuat Hadis yang sesuai dengan keyakinan mereka bahwa berbohong adalah dosa besar dan pelaku dosa besar adalah kafir.[12]

2. Musuh Islam (Zindiq).

Di antara nama-nama orang-orang zindiq yang memalsukan Hadis adalah Muhammad ibnu Said al-Samiy. Dia meriwayatkan Hadis yang diakuinya berasal dari Humaid dari Anas dari Rasulullah saw. berbunyi:

أنا خاتم النبيين لا نبي بعدى إلا أن يشاء الله

Aku adalah penutup para nabi-nabi, tidak ada nabi setelahku kecuali Allah swt. menghendakinya.

Tokoh lainnya adalah Abdul Karim ibnu al-Auza’ yang telah memalsukan sebanyak 4000 Hadis yang berhubungan dengan penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal. Mereka memalsukan Hadis untuk tujuan mengkaburkan dan menghilangkan kemurnian agama dalam pandangan ahli fikir dan ilmu.

3. Fanatisme

Para pendukung bahasa Persia menciptakan Hadis yang menyatakan kemuliaan bahasa tersebut, seperti:

إن كلام الذى حول العرش فارسى
sesungguhnya permbicaraan di sekitar Arsy adalah menggunakan bahasa Persia.

Sementara kelompok yang menantangnya membuat Hadis yang lain seperti:

أبغض كلام عند الله فارسى

Pembicaraan yang paling dibenci oleh Allah swt. adalah bahasa Persia.

4. Membuat cerita.

Salah satu tujuan menyampaikan sesuatu melalui cerita adalah bagaimana agar menarik perhatian atau untuk memperindah hal-hal yang tidak semestinya indah agar pendengarnya merasa tertarik. Pemalsuan yang terkait dengan hal tersebut adalah:

من قال لا إله إلا الله خلق الله من كل كلمة طير أنقاره من ذهب و ريشه من مرجان

Barang siapa mengatakan “tiada tuhan selain Allah, maka Allah akan menciptakan dari setiap kata-kata tersebut seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas dan bulunya dari marjan.

5. Perbedaan pendapat.

Seperti:

كل من فى السماوات و الأرض و ما بينهما مخلوق غير القرأن

Setiap sesuatu yang ada di langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya adalah makhluk kecuali Alquran

6. semangat yang berlebihan untuk berbuat kebaikan yang tidak dilandasi permasalahan agama.

Ada anggapan di kalangan sebagian orang-orang shaleh dan para zahid bahwa untuk tujuan targhib dan tarhib maka pemalsuan dengan tujuan tersebut tidak masuk dalam kategori orang-orang yang dilaknat nabi dalam Hadis “barang siapa berbohong atasku dengan sengaja......”,

7. untuk mendekatkan diri kepada penguasa.

Ghayyas bin Ibrahim telah membuat kebohongan melalui Hadis ketika ia memasuki istana al-Mahdi. Pada saat itu ia melihat al-Mahdi sedang mengadu burung merpati, maka ia mengucapkan memalsukan sebuah Hadis dengan menambahi matannya.

Selain dari hal-hal tersebut di atas, masih ada beberapa sebab lain yang mendorong munculnya pemalsuan, seperti demi memuji sebuah usaha atau pekerjaan tertentu.


E. Ciri-Ciri Hadis Maudhu’

a. Ciri-Ciri Pada Sanad.

1. berdasarkan pengakuan dari orang yang memalsukan Hadis.

Terdapat beberapa nama pemalsu Hadis yang mengakui perbuatannya, di antaranya adalah Abu Isma Nuh ibnu Abi Maryam tentang keutamaan surat-surat Alquran al-Karim. Abu Karim al-Auza’ yang memalsukan Hadis halal-haram.[13] Begitu juga dengan Abu Yazis yang mengaku telah memalsukan Hadis dan menyatakan bertobat dan minta ampun.[14]

2. tanda-tanda yang bermakna pengakuan.

Misalnya seorang rawi yang mengaku menerima Hadis dari seorang guru padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut, atau ia mengatakan menerima Hadis dari seorang guru, padahal guru tersebut telah meninggal dunia sebelum ia lahir, seperti Ma’mun Ibnu Ahmad al-Saramiy yang mengatakan kepada Ibnu Hibban bahwa ia pernah mendengar Hadis dari Hisyam dan Hammar, Ibnu Hibbanpun bertanya kapan ia ke Syam,yang dijawab oleh Ma’mun Ibnu Ahmad al-Sarami bahwa ia ke Syam pada tahun 250 H. , padahal Hisyam meninggal dunia pada tahun 254 H.

3. terkesan dibuat-buat berdasarkan kejadiannya.

b. Ciri-Ciri Pada Matan.

Menelusuri pemalsuan Hadis secara akurat melalui matannya dapat dilakukan dengan menganalisa matan tersebut. Unsur-unsur yang sering terdapat pada matan Hadis maudhu’ adalah:

1. kelemahan atau kerancuan lafal Hadis dan maknanya.
2. kerusakan makna hingga tidak dapat diterima oleh indera.
3. mentolerir perbuatan dan dorongan syahwat.
4. terdapat fakta yang bertentangan dengan isi Hadis tersebut.
5. hal-hal atau berita yang tidak masuk akal.
6. bertentangan dengan nash Alquran al-Karim.
7. bertentangan dengan Hadis mutawatir.


E. Penutup

Hadis maudhu’ adalah Hadis yang dibuat-buat dan disandarkan kepada Rasulullah saw. ada beberapa faktor, sebab dan tujuan yang mendorong seseorang memalsukan Hadis, seperti:

1. untuk tujuan politik
2. fanatisme
3. ekonomi
4. dan sebagainya

Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah sebuah Hadis palsu atau tidak, baik dengan melihat ciri-ciri pada sanad ataupun matan. Adapun ciri-ciri pada sanad adalah:

1. adanya pengakuan seorang rawi bahwa ia memalsukan Hadis.
2. terdapat hal-hal yang menjukkan bahwa seorang rawi memalsukan Hadis.
3. terkesan dibuat-buat.

Sedangkan ciri-ciri pada matan adalah:

1. kelemahan atau kerancuan lafal Hadis dan maknanya.
2. kerusakan makna hingga tidak dapat diterima oleh indera.
3. mentolerir perbuatan dan dorongan syahwat.
4. terdapat fakta yang bertentangan dengan isi Hadis tersebut.
5. hal-hal atau berita yang tidak masuk akal.
6. bertentangan dengan nash Alquran al-Karim atau Hadis mutawatir.

10 Hukum Pertanyaan Kehidupan

Berapa orang dari kita yang pernah memikirkan sungguh-sungguh arti kehidupan ini? Meskipun kita menjalani hidup kita masing-masing, banyak dari kita yang mempertanyakan apakah arti kehidupan ini. Kita perlu menyisihkan waktu untuk memikirkan hal ini dengan serius. Kecuali kita benar-benar memahami kehidupan kita saat ini dan bagaimana kita menjalaninya, kita tidak bisa merubahnya sesuai dengan keinginan kita. Terdapat pandangan-pandangan kehidupan yang berbeda dimana orang-orang akan melihat kehidupan berdasarkan pendidikan, pemahaman, dan pengalaman pribadi mereka.
10. Pengambilan Keputusan
Ada saat tertentu dalam kehidupan dimana rasanya sulit untuk mengambil keputusan yang tepat. Hal ini mungkin terjadi karena kita tidak memiliki semua informasi yang kita butuhkan untuk membuat keputusan yang tepat. Alasan lain ialah karena kita kurang berhati-hati dalam menghadapi situasi atau masalah tersebut. Faktor lain yang mungkin berujung pada kesalahan dalam pengambilan keputusan adalah kita merasa tidak sabaran sehingga kita membuat keputusan yang tergesa-gesa. Pada saat yang bersamaan, kita harus menganalisa dengan objektif penyebab kegagalan kita. Analisis objektif semacam ini akan membantu kita dalam usaha kita ke depan. Kita harus memastikan bahwa kesalahan yang kita lakukan tidak terulang kembali. Pengalaman masa lalu seharusnya menjadi bekal untuk kesuksesan kita di masa depan. Antusiasme dan minat yang lebih besar menjadikan kesalahan kita sebagai batu loncatan untuk kesuksesan di masa mendatang.
9. Seni Memberi
Dimanapun kita tinggal, kita mendapati bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang sangat miskin dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sebagian dari mereka bahkan tidak bisa makan 2x sehari. Mereka tinggal di rumah yang lapuk. Mereka tidak memiliki pakaian yang layak untuk dikenakan. Anak-anak mereka terlihat di lingkungan sekitar kita dan tidak meneruskan pendidikan mereka. Ketika anda telah berada pada titik dimana anda merasa nyaman, pikirkanlah orang-orang tersebut yang berjuang susah payah untuk mencari uang demi bertahan hidup. Dalam hal ini, kita harus menyediakan bantuan bagi mereka dalam bentuk materi maupun bentuk lain. Beasiswa dapat ditawarkan kepada pelajar yang berasal dari keluarga miskin. Bantuan juga bisa diberikan untuk perawatan dan biaya rumah sakit bagi pasien yang miskin. Sebagian dari mereka tidak memiliki tempat berteduh dan terpaksa tidur di tempat terbuka. Singkat kata, kita bisa menemukan berbagai macam cara untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan kita harus membantu mereka tanpa pamrih. Mereka yang berkecukupan harus menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka untuk kegiatan semacam ini.
8. Harapan dan Iman
Nasib bukanlah soal kesempatan; nasib adalah perihal pilihan. Nasib bukanlah sesuatu yang harus kita tunggu, namun sesuatu yang harus kita capai. Manusia adalah arsitek dari nasibnya sendiri. Nasib atau takdir merupakan hasil dari tindakan dan usaha kita. Jika kita mengetahui kejadian-kejadian yang akan kita alami di tahun mendatang, apa reaksi kita? Kebanyakan dari kita berpikir: kita sudah mengetahui nasib kita, jadi mengapa kita harus bekerja? Apapun yang kita lakukan hasilnya akan tetap sama. Jika anda terus bersikap demikian, anda tidak pernah maju. Tidak akan pernah ada produk baru maupun penemuan baru. Hanya stagnasi lah yang akan terjadi. Nasib membuat orang menjadi pasif dan menumpulkan pertumbuhannya. Kita tidak boleh bergantung pada nasib. Kita harus memahami pentingnya kejujuran dan kerja keras. Seperti kata pepatah: kerja adalah bagian dari doa. Kerja keras yang disertai kecerdasan dan ketulusan akan menghasilkan sukses di berbagai bidang.
7. Hukum Karma
Poin ini khusus bagi mereka yang percaya akan adanya hukum karma. Berdasarkan hukum karma, setiap akibat pasti memiliki sebab. Semua terjadi karena ada yang memulainya terlebih dahulu. Beberapa orang hidup hingga usia 100 tahun bahkan lebih sementara yang lain meninggal pada usia muda. Beberapa orang meninggal dengan cara yang menyakitkan dengan terbaring di rumah sakit karena penyakit serius. Sebaliknya, ada orang-orang yang meninggal tanpa merasa sakit. Pertanyaan dasar yang muncul dalam benak seseorang adalah: mengapa terdapat begitu banyak perbedaan dalam kehidupan manusia? Jawabannya sangat sederhana: karena hukum karma. Orang memperoleh hasil dari pemikiran serta tindakan mereka di kehidupan terdahulu. Jika seseorang telah hidup dengan jujur, membantu orang-orang di sekelilingnya; cepat atau lambat ia akan memperoleh imbalannya. Orang-orang yang memiliki kehidupan yang baik dan nyaman kemungkinan telah melakukan banyak perbuatan baik semasa hidupnya dulu; dan sebaliknya. Jiwa bersifat abadi dan selalu ada. Jiwa tidak pernah bisa ditenggelamkan ke dalam air atau dibakar dengan api. Tujuan utama dari jiwa adalah untuk mencapai tahap kesadaran diri dan kesempurnaan. Jiwa harus melalui beberapa tahap kelahiran dan kematian hingga akhirnya jiwa tersebut bisa mencapai tujuan akhirnya. Namun, jiwa bisa mencapai tujuan akhirnya jika jiwa tersebut tidak lagi memiliki hasrat, semua urusan-urusan telah dituntaskan dan tidak ada lagi beban yang ditanggungnya.
6. Manusia Harus Menghormati Sesamanya
Pada pandangan pertama, poin ini nampaknya berhubungan dengan aspek moral kehidupan. Tidak diragukan lagi, pertanyaan terhadap integritas moral cukup penting namun poin ini memiliki arti yang lebih mendalam. Seringkali, seseorang merasa dipermalukan oleh atasannya dan di hadapan rekan-rekan kerjanya. Jika dia terus dipermalukan di kantor atau di antara teman-temannya; ia akan kehilangan harga diri. Orang yang mengalami ini tidak saja akan merasa tidak berdaya dan terganggu, ia akan cenderung tidak menghargai atasannya dan bahkan menggunakan bahasa yang kasar. Dalam situasi semacam ini, sangat disarankan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja maupun lingkungan meskipun dalam situasi tertentu hal ini tidak memungkinkan. Sebagai alternatif, ia seharusnya berterus terang kepada atasannya mengenai perasaan dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi pekerjaannya. Atasannya seharusnya cukup dewasa untuk memahami bahwa ia harus menghargai bawahannya. Dengan melakukan ini, hubungan antara atasan dan bawahan akan membaik dan akan tercipta keharmonisan diantara mereka berdua.
5. Manusia Harus Memiliki Kepuasan atas Kebutuhan Sosialnya
Manusia harus memiliki kehidupan sosial karena ia tidak dapat hidup seorang diri. Kecuali bagi mereka yang menjauhkan diri dari kehidupan materi dan mencari pencerahan jiwa; manusia membutuhkan interaksi sosial. Pada jaman dahulu, dalam sistem keluarga, kebutuhan sosial dapat terpenuhi dengan interaksi antar anggota keluarga. Namun dengan meningkatnya jumlah keluarga inti, manusia nyaris putus hubungan dengan interaksi sosial. Di kota-kota besar di tengah padatnya penduduk, seseorang bisa merasa terisolasi. Ia hidup di tengah-tengah orang asing. Ia harus memenuhi kebutuhan sosialnya dan menemukan cara untuk bercengkrama dengan lingkungan sekitarnya. Ia bisa bergabung dengan klub sosial atau asosiasi dimana ia bisa menghabiskan waktu dan berinteraksi dengan sesama anggota yang memiliki kesamaan minat. Para orang tua sebaiknya tidak terlalu mengekang kehidupan sosial anak-anak mereka. Jika mereka melarang anak-anak untuk bergaul dengan kawan-kawannya, orang tua seharusnya sadar bahwa hal itu akan menghambat pertumbuhan mereka.
4. Manusia Harus Memperoleh Rasa Superioritas (Setidaknya) Dalam 1 Hal
Jadilah ahli dalam beberapa bidang. Manusia harus memilh pekerjaan sesuai dengan keahliannya, meskipun seringkali kebebasan untuk memilih pekerjaan tidaklah mungkin. Intinya adalah pekerjaan apapun yang ia lakukan, ia harus menjadi ahli dalam pekerjaannya, dan dari situlah ia akan mendapatkan rasa hormat dari kelompoknya. Keahlian ini harus terus ia miliki sepanjang hidupnya. Sebagai contoh, mari kita lihat dari bidang akademis. Seorang professor mengajar sebuah mata pelajaran dalam kelas-kelas tingkat lanjut di sebuah universitas. Ia tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang cukup terhadap mata pelajaran yang ia ajarkan, ia juga harus mengajar dengan cara yang bisa dipahami murid-muridnya. Jika para murid menganggap ia bisa mengajar dengan baik, mereka akan bersemangat untuk hadir dalam mata kuliahnya dan memberikan rasa hormat baginya. Sang professor akan merasa sangat senang jika ia mengetahui bahwa mata pelajaran yang ia ajarkan dapat diterima dengan baik dan dihargai.
3. Energi Harus Disalurkan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang tua yang mencegah anak-anak mereka melakukan hal yang mereka minati. Jika si anak menentang keinginan orang tua nya , orang tua akan menegurnya dan meminta agar hal tersebut tidak mereka lakukan lagi. Hal ini mungkin akan berhasil untuk sementara waktu namun jika sering dilakukan, hal ini akan berdampak buruk bagi pertumbuhan anak. Jika si anak berada pada rentang usia 14-20 tahun, ia akan memberontak dan melawan ayahnya secara terbuka. Sebagai contoh, ketika air mendidih, uap dengan dorongan tenaga kuat akan dihasilkan. Nah, jika tidak ada pelepasan dan air terus mendidih, akan terjadi ledakan. Intinya adalah jika seseorang memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, tidak disarankan untuk menekan dorongan tersebut. Menekan “dorongan tersebut” akan berakibat pada kemunduran kehidupan orang yang bersangkutan. Hal itu akan merampas kepribadian unik dari orang tersebut.
2. Manusia Harus Mendengarkan Suara Hatinya
Untuk mencapai kehidupan yang terorganisir, manusia harus mematuhi suara hatinya. Bahkan, poin ini adalah hukum terpenting dari hukum-hukum yang sudah ada. Jika manusia tidak mampu mendengarkan suara hatinya, ia tidak akan mampu mengendalikan dan mengarahkan hidupnya. Perlu dicatat juga bahwa kita tidak pernah bisa memutuskan apa yang harus dilakukan orang lain. Namun kita bisa mendengar suara hati kita yang akan memberi tahu kita apa yang harus kita lakukan. Sekali lagi, orang tua memiliki peran besar untuk mendorong anak-anak mereka; semakin mereka dewasa mereka harus mengarahkan kehidupan mereka. Untuk hal ini, orang tua harus memberikan pengarahan sehingga mereka bisa mengetahui bagaimana intuisi mereka bisa menuntun kehidupan mereka. Jika seseorang telah mengembangkan kebiasaan bermeditasi, akan terasa lebih mudah untuk mendengarkan suara hati. Meditasi juga akan membawanya menuju kebangkitan spiritual.
1. Harus Mengatur dan Mengarahkan Hidupnya
Hukum fundamental ini mengatakan bahwa manusia harus menguasai kehidupannya. Ia harus mampu membentuk kehidupannya sesuai dengan keahlian dan minatnya. Namun, hal ini mungkin terjadi jika ia memeiliki kehidupan yang teratur. Ia harus memastikan bahwa seluruh kegiatannya memiliki waktu sehingga ia memiliki kehidupan yang seimbang. Kehidupan demikian akan membantu menghindari waktu terbuang sia-sia dan memungkinkan manusia untuk memberikan hasil yang maksimal dan di waktu yang bersamaan menyediakan relaksasi dan suka cita bagi dirinya sendiri. Saat ini, banyak hal yang berubah dengan cepat. Dunia telah menjadi pemukiman global. Perubahan teknologi berlangsung setiap harinya. Oleh sebab itu sangatlah penting bagi manusia untuk tetap mengikuti perubahan jaman. Hal ini mungkin terjadi jika anda memiliki rasa ingin tahu untuk terus mempelajari hal-hal baru. Anda tidak boleh menunda proses pembelajaran. Jika anda menunda proses tersebut, anda akan mendapatkan diri anda terjebak dalam bidang anda. Dalam dunia yang kompetitif, banyak orang yang akan mendahului anda. Hal ini akan meruntuhkan semangat anda dan membuat anda merasa frustasi.


Selasa, 19 Agustus 2014

Sekilas Tentang Nabi Ibrahim a.s.

Kitab Nabi Ibrahim

Apakah Nabi Ibrahim menerima kitab juga? Semua Nabi dan Rasul mendapat kitab atau suhuf (lembaran-lembaran), seperti disebutkan dalam Al Quran:
"Innahadza lafish shuhufil uulaa. Shuhufi Ibrahima wa Musa" [QS 87 Al A'laa: 18-19). Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam suhuf-suhuf (kitab-kitab) terdahulu. (yaitu) Suhuf (Kitab) Ibrahim dan Musa.
Disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishashul Anbiya' bahwa Nabi Adam menerima 50 suhuf dari Allah. Agama Nabi Ibrahim as adalah Islam atau biasa juga disebut agama hanif.
Istilah 'suhuf' dan 'kitab' bermakna sama. "Suhufi Ibrahima wa Musa". Lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa. Padahal kita semua tahu Nabi Musa as. memperoleh kitab, yaitu Taurat. Jadi kata "suhuf" bermakna umum, lembaran dan/atau kitab. Sedang kata
"kitab" nampaknya bermakna lebih khusus yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran. Allahua'lam.

Anak Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim as mempunyai banyak anak dari empat istri. Dua di antaranya menjadi Rasul, yaitu Ismail dan Ishaq 'alaihimassalam. Nabi Ishaq mempunyai dua orang anak: Al 'Aish yang menurunkan bangsa Romawi (dia menikah dengan sepupunya, anak Nabi Ismail) dan satu lagi Ya'kub as yang dinamakan Israil oleh Allah. Ya'kub as menjadi rasul juga dan dia memiliki 12 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Keturunan semua anak lelakinya inilah yang disebut Bani Israil. Salah satu anak Nabi Ya'kub as adalah Yusuf as, yang juga menjadi Rasulullah.
Rasul yang terkenal dari keturunan Al 'Aish (bangsa Rum) adalah Nabi Ayyub as. Dari keturunan Ya'kub as banyak rasul, di antaranya: Musa, Harun, Yusya', Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, 'Isa 'alaihissolatu wassalam. Beliau juga menurunkan beberapa nabi: Samuel, Hizkia, Danial, Uzair dan banyak lagi.
Selain itu Nabi Ibrahim juga menurunkan Nabi Syu'aib dari anaknya Madyan (dari istri ketiga: Qanthura). Beliau menurunkan semua rasul (yang wajib diketahui dalam Islam) setelah beliau.
Dan yang terbesar, Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail menurunkan nabi penutup yang kedatangannya telah dikabarkan dalam kitab-kitab terdahulu: Nabi Muhammad saw.
Tentang Istilah 'Yahudi'
Al Quran menggunakan istilah "yahudi" untuk menyebut keturunan Bani Israil di zaman Rasulullah Muhammad saw. Agama mereka adalah agama yahudi, bukan Ibrani. Kata "Ibrani" adalah nama yang mereka (yahudi) gunakan untuk menamakan bangsa mereka. "Ibrani" bermakna "menyeberang". Yang dimaksud adalah menyeberangi Sungai Eufrat (Nabi Ibrahim konon berasal dari seberang Sungai Eufrat). Jadi yahudi mengklaim bahwa Nabi Ibrahim adalah orang Ibrani yang pertama dan sekarang orang Ibrani itu adalah mereka. Lihat bagaimana sombongnya yahudi, seakan-akan merekalah satu-satunya keturunan Ibrahim. Keturunan Nabi Ibrahim yang lain tak dianggapnya.
Sekian dulu mengenai keluarga Ibrahim as (dari kalangan beriman) yang mulia dan mendapat keberkatan besar dari Allah.

Mengambil Hikmah Dari Buang Air Besar dan Air Kecil

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para pembaca yang budiman...
Organ tubuh yang ada pada diri kita ini semua diciptakan oleh Allah Yang maha Kuasa. Ia menciptakan dengan sebaik-baik mungkin. Tiadalah satu makhlukpun hasil ciptaan Allah SWT yang lebih baik, lebih indah, lebih sempurna melainkan manusia. Seperti Firman Allah : "Laqod kholaqnal insana fii ahsani taqwiim" yang artinya : Sungguh kami ciptakan manusia dengan sebaik-baiknya ciptaan. Bunyi ayat Allah di atas menggambarkan bahwa apa yang ada pada diri kita, baik itu yang bersih sampai yang kotor sekalipun semua ada manfaatnya dan dapat kita jadikan hikmah dan contoh serta i'tibar terhadap perilaku kita sehari-hari.
Periaku manusia zaman sekarang sudah tidak memperdulikan lagi sesama manusia, alam dan lingkungan sekitar. 
misalkan mengganggu kesenangan, merampas hak, menindas yang lemah dan tidak memperdulikan fungsi-fungsi penting orang lain. Dan masih banyak lagi yang lain-lainnya. Padahal kita sudah ditentukan batas-batas kewajaran untuk melakukannya. Apakah kita tidak bisa mengambil sebuah hikmah disaat kita membuang kotoran yang ada pada diri kita, sebut saja buang air besar dan buang air kecil. Apa yang kita rasakan ketika salah satu kotoran tersebut atau kedua-duanya minggat dari habitatnya ? dengan kata lain keluar dari lubangnya. Mulai dari mengangkat sarung atau membuka celana sampai berakhirnya membuang kedua kotoran itu, seketika mulut kita akan mengatakan : "Ahh... aduh...asyiknya, lega rasanya...ada juga yang mengatakan dengan kalimat-kalimat lucu : " Ah...saya sudah terbebas dari himpitan-himpitan pahitnya hidup" begitu lega, senangnya hati kita, semua organ tubuh kita terasa longgar, pikiran kembali fres dan rasa ngantukpun hilang seketika. Lebih enaknya lagi, ketika kita melakukan aktifitas itu tidak sampai mengganggu orang lain, kecuali bagi orang-orang yang semena-menanyalah yang tidak memperhatikan keamanan dan kenyamanan orang lain.
Ketika kedua kotoran yang keluar dari lubangnya itu, tidak kita minta dan memberikan izin untuk keluar, ia keluar secara suka rela dan rela berkorban untuk kepentingan seluruh organ tubuh kita. Semua masyarakat tubuh tersebut, baik dari perangkat lunak sampai pada kabel-kabelnya merasakan kenikmatan hidup yang tiada terhitung, walaupun pada dasarnya akan kembali pada saat-saat tertentu. Namun tetap juga kita buang dan kembali merasakan kelegaan.
Lantas apa hubungan buang air besar dan buang air kecil dengan perilaku manusia zaman sekarang ? ketika pencuri mangga tidak segera keluar dari kebiasaan mencurinya, maka yang empunya mangga tidak akan merasa tenang mangganya akan dicuri terus, padahal mangga itu dijual pada orang banyak untuk kepentingan kesehatan. Karena mangga mengandung vitamin c. Apabila orang yang melakukan perzinahan dan pemerkosaan tidak segera taubat dari kebiasaan perzinahan dan pemerkosaannya, maka semua orang tua yang memiliki anak perempuan gadis akan merasa resah jangan-jangan anak gadisnya akan terjaring oleh nafsu birahi orang-orang bejat yang tidak bermoral. Ketika kita tidak mau keluar dalam lingkungan orang-orang yang susah diatur, maka kita akan terbelenggu dengan ketidakaturan. Ketika kita tidak mau keluar dengan suka rela dalam lembah kejahatan, maka tunggulah saat kehancurannya.
Yang terbaik buat kita adalah, dengan mengikuti cara-cara buang air besar dan kecil. setelah keluar keluarlah dengan suka rela rela, rela berkorban dan tidak mengganggu organ-organ tubuh yang lain, bahkan setelah keluar kedua kotoran juga bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Air kencing bisa menyuburkan tanaman apabila disirami dengan tanaman juga memperkuat pertahanan tubuh tanaman. Begitu juga air besar, bisa dijadikan pupuk kandang untuk kebutuhan tanaman.
Bagaimana dengan perilaku, sifat, tabi'at dan kebisaan kita dalam kehidupan sehari-hari ? apabila kita merasa diri bahwa kita selalu membuat orang susah dan berada dalam lingkungan orang-orang yang berakhlaq baik, cobalah perlahan-lahan untuk keluar dengan suka rela, rela berkorban dan tidak mengganggu orang lain, yang pada akhirnya kita akan jadi menemukan jati diri yang sebenarnya sebagai manusia sejati dan berakhlaq mulia. Itulah yang diinginkan oleh diri, lingkungan dan agama yang kita anut. Lebih khusus lagi Tuhan Yang Kuasa menginginkan hal semacam itu. Terciptalah suasana aman, tentram, damai dan bersahaja. Negara akan terhindar dari bencana krisis, baik itu krisis uang, krisis moral dan krisis sandang pangan.

Renungan Seperempat Malam


               Satu hal yang perlu kita cemaskan dalam kehidupan ini. 
Mampukah orang Islam menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya sehari-hari. 
setidaknya dimulai dari hal yang kecil. 
Yaitu masalah Thoharah=kebersihan, kebersihan
lahir maupun bathin. sudah banyak kitab-kitab 
yang membahas tentang thoharah. baik buku yang diterbitkan oleh para ulama timur tengah maupun para ulama produk dalam negeri. 
Tapi hanya sebahagian kecil manusia makhluk Allah yang mampu menerapkan ajarannya itu. Padahal Allah  telah menciptakan manusia
itu dengan sebaik-baiknya bentuk, pengertian bentuk di sini bukan hanya bentuk=rupa yang dipandang secara kasat mata. 
Tapi, bentuk bathiniyah juga. Apa susahnya menerapkan ajaran Allah di muka bumi ini ? ibaratkan sebuah flash disk yang dipasang 
di Laptop atau CPU tinggal kita send too atau mengcopypaste, masuklah data yang kita maksud. Begitu juga dengan ajaran, aturan Allah SWT yang telah ada
di hadapan kita, tinggal kita baca dan memasukan dalam hati suci, maka akan tercipta keadaan yang kondusif dan harmoni.
              Jangan pernah menganggap, bahwa aturan Allah itu membatasi ruang gerak kita atau merugikan kehidupan kita. Orang yang seperti ini 
selalu mengedepankan hawa nafsu syaithon, dan memburu kehidupan dunia dengan segala cara. Apakah dunia yang kita tempati ini selamanya kita tempati ?. Tidak, sama sekali tidak. Ingat firman Allah yang bunyinya :    " Wayabqoo dzul jalaali wal ikroom " = dzat Yang Maha Kuasa (Allah) lah yang kekal dan mulia. dan dalam surat/ayat  lain Allah berfirman : " Walal Aakhiratu khairullaka minal uula " = Dan kehidupan akhirat itu lebih baik ketimbang kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanya bisa kita nikmati
di dunia saja, itu sudah pasti. tapi tidak sampai kita bawa serta di kehidupan selanjutnya (akhirat). Kecuali kenikmatan dunia itu
betul-betul mengarah dan seiring dengan aturan Allah.
Kerut keningnya Allah melihat kebobrokan akhlaq umat manusia, yang semakin jauh dengan ketakutannya dengan Allah.
Allah murka, marah, gerah. Dia menampakan murka, marah dan gerahnya dengan menurunkan bala dan bencana yang bertubi-tubi kepada kita. Sebenarnya Dia ingin menghancurkan, membinasakan dunia ini. Tapi Allah mempertimbangkannya. Karena Allah melihat dengan kekuasaan tajamnya masih ada di antara hambanya yang menggerakan kedua belah bibirnya berdzikir dengan tahmid, takbir, istighfar dan tahlil.
Jika ada di antara hambanya yang masih 
berdzikir dan mengakui keesaanNya, maka Allah tidak akan membinasakan dunia ini. Tapi jangan kita mengharap terlalu banyak kepada orang yang berdzikir itu. karena semua amalan yang kita perbuat untuk kita, bukan untuk orang lain.
Bagi kami amalan kami, bagimu amalanmu.
 Akankah pahala dzikir bisa kita bagikan untuk orang lain ?. Ini pertanyaan konyol, konyol sekali. sama halnya kita membagikan organ tubuh kita yang sangat vital kepada orang lain. Semua itu akan merugikan bahkan membuat kita mati.
Wahai manusia...Kembalilah ke jalan yang benar
Luruskan pikiranmu
Carilah bekal yang baik di duniamu untuk akhiratmu
tinggalkan segala kebohongan, kecurangan hidup.
Bisakah kau memikirkan kekuasaan Allah yang tak bisa
ditandingi oleh beribu-ribu kekuasaan manusia di dunia. Bagaimana Allah membolak-balik dunia, gunung-gunung bertebaran laksana kapas
yang ditiup angin, langit-langit biru saling
reruntuhan, air laut yang terbentang luas bergelombang dahsyat 
menaiki daratan tempat tinggal manusia/Tsunami dunia,
manusia-manusia berterbangan sambil mencari
tempat berteduh untuk menyelamatkan diri.
Oh... ternyata sudah tidak ada jalan lagi.
QIYAAAAMAAAAH......., 
DUNIA SEBENTAR LAGI QIYAMAH


Ikhlas Merubah Pola Pikir Manusia Menjadi Baik


Katakanlah : Sesungguhnya sholatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri kepada Allah
(QS. Al-An'am ; 162-163)

Itulah firman Allah yang menyinggung tentang keikhlasan. Karena keikhlasan itu merupakan cermin kebaikan dalam merubah pola pikir manusia.
 
            Keyakinan ini selayaknya menjadi bangsa ini setiap waktu. Terlebih ketika banyak cobaan menimpa, dari ujung timur hingga ujung barat, dari ujung selatan hingga ujung utara wilayah Indonesia ditimpa bencana. Ujian demi ujian mendera bangsa Indonesia dan itu pasti akan selesai dan akan berganti dengan kebahagiaan.
            Setiap masalah harus dicarikan solusi, kepedihan harus dicari obatnya. Sebab, proses turunnya bantuan dari Allah SWT juga terkait dengan sejauh mana umat ini berusaha dan bekerja menyongsong bantuan tersebut. Demikian juga dengan masalah yang dihadapi oleh bansa ini, sehingga sangat diperlukan masyarakat yang benar-benar ikhlas.
            Seperti kisah Panglima Maslamah. Suatu ketika, dalam ekspedisi militernya, ia menghadapi masalah besar. Daerah musuh yang akan ditaklukannya masih luas terbentang di hadapannya. Benteng merekapun kokoh berdiri tegak menantang. Seakan kecongkakannya tak bisa ditembus oleh siapapun.
            Panglima Maslamah lalu berpikir keras untuk mencari strategi tepat. Jika menggunakan pertempuran umum, dengan mengerahkan tentara begitu saja ke dekat benteng tentu akan makan banyak korban. Benteng itu demikian tinggi dan dijaga ketat. Anak panah dengan mudah bermuntahan ke bawah. Maslamah sadar, meski setiap mujahidin menginginkan syahid di medan laga, Ia harus memperkecil kemungkinan banyaknya tentara yang gugur. Apalagi jumlah mereka sangat disbanding laskar musuh.
            Tiba-tiba ia menemukan jalan. Dilihatnya sebuah lorong dalam benteng, kurang terjaga kuat. Jika lorong itu tersebut dapat ditembus dan dibuka pintunya tentu tentara denag mudah menyerang ked a;am benteng. Masalahnya pekerjaan itu tak dapat dilakukan secara terang-terangan, apalagi melibatkan banyak pasukan. Bias jadi malah kekacauan yang terjadi. Sebab, bila strategi itu terbaca, mereka segera akan mengerahkan kekuatan untuk mempertahankan pintu itu mati-matian.
            Setelah memutar otak, Maslamah berkesimpulan, pekerjaan itu harus dilakukan oleh seseorang yang kuat dan pemberani, yang dapat menyelinap dan menaklukan para penjaga tanpa menimbulkan kehebohan. Maka di kemah pertahanannya, Maslamah mengumpulkan pasukannya. Ia menceritakan taktik yang sedang dipikirkannya. Setelah itu ia bertanya, “ Siapakah yang berani merelakan dirinya untuk mengemban tugas ini ?” sunyi, tak ada jawaban. Para mujahidin saling berpandangan. Maslamah mengulang kembali pertanyaannya. Tetap tak ada jawaban.
            Maslamah tercenung, apakah strategi yang paling mungkin ini harus dirubah ?. Tak  adakah seorang prajurit yang rela berkorban demi terbukanya peluang ini ?. Maslamah hampi saja patah arah, ketika tiba-tiba seorang penunggang kuda mendekatinya. Dan atas pelana, orang itu berseru, “ saya yang akan melaksanakan tugas itu wahai Maslamah
            Maslamah terkejut. Dipandanginya orang yang tiba-tiba saja berada di hadapannya. Badannya tegap. Di pingggangnya terselip pedang yang bersilau. Sorot matanya tajam laksana harimau lapar yang siap menerkam mangsanya. Tapi, subhanallah, orang itu menyembunyikan wajahnya di  balik kain penutup kepala yang dibelitkan ke wajah. Hanya mata dan pangkal hidungnya saja yang tampak. Tak lama orang itu beranjak meninggalkan Maslamah. Doa maslamah mengiringi kepergiannya, “mudah-mudahan Allah menolongnya” bisiknya lirih.
            Beberapa saat kemudian, orang itu muncul lagi. Ia memberi isyarat bahwa penjaga pintu telah ia taklukkan. Segera saja pasukan menyerbu benteng itu. Pertempuran dahsyat tak terelakkan. Jerit takbir dan denting pedang-pedang berhasutan, silih berganti. Tak lama kemudian, jerih payah itu membuahkan hasil. Allah SWT melimpahkan karunia-Nya. Pasukan yang dipimpin Maslamah berhasil meraih kemenangan.
            Usai pertempuran, maslamah kembali berteriak, “wahai orang yang bercadar, siapakah anda sebenarnya? Kemarilah, perkenalkan dirimu !” Namun tak seorang menyahut. Apalagi mengakui dirinya penakluk pintu benteng. Para mujahidin hanya bias saling berpandangan. Mereka juga ingin mengetahui siapa sebenarnya manusia yang gagah perkasa itu.
            Selang beberapa lama, datanglah seseorang ke kediaman Maslamah. Orang itu berkata, “ jika Tuan ingin mengetahui siapa sebenarnya orang yang bercadar itu, saya bias memberi tahu.”
            “Engkaukah orang yang bercadar itu?” sergah Maslamah.
            “Sebelum saya memberi tahu siapa orang yang bercadar itu, Tuan harus memenuhi tiga syarat,” kata orang itu. Maslamah makin penasaran. Dengan segera ia menyetujui persyaratan yang diajukan.” Baiklah, katakana saja,”sahut Maslamah.
            “Tiga syarat itu adalah: Pertama, Tuan jangan bertanya siapa namanya. Kedua,jangan memberi hadiah apapun padanya. Ketiga, jangan ceritakan peristiwa ini kepada Amirul Mukminin.”
            “Baiklah,” jawab maslamah. “ sekarang katakana,” lanjutnya.
            “Sayalah orang yang bercadar itu, “ kata orang tersebut.
            Maslamah terperanjat. Rasa kagum, haru, juga gembira berbaur dalam hatinya.
Seketika ia mengangkat tangannya, Ya Allah, kumpulkan aku di surga bersama orang bercadar ini.”
            Begitulah, sejarah pun tak tahu siapa nama orang bercadar itu. Tapi sejarah telah mencatat sisi lain dari peristiwa itu, bahwa pada setiap zaman selalu ada pahlawan. Pahlawan itu tak ingin dikenal namanya atau dibesar-besarkan kegigihannya. Allah berkuasa membangkitkan pada setiap zaman, pada setiap kesulitan, orang-orang tulus dan siap mendobrak pintu-pintu kezaliman.
            Keihklasan adalah puncak dari pengalaman ajaran agama (islam). Dari sanala amal dimulai. Seberapapun masalah yang kita hadapi, kejernihan hati, ketulusan jiwa, dan keikhlasan beramal akan menjadi pendobrak yang luar biasa.
            Sebaliknya sikap riya’ pasti akan mengantarkan pada kegagalan, bahkan kebinasaan di dunia sampai akhirat.
            Allah SWT telah memperingatkan hal ini dengan firmannya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampong halamannya dengan sombong dan riya’ kepada manusia.” (QS. Al-Anfal ; 47).
            Kalau begitu ikhlas yu.